Sekilas Tentang Buku “Pelangi Damai di Sudut Jogja”


“Memotret Perdamaian di Jogja”

Teman, kira-kira apa yang terbersit di kepala kalian ketika mendengar kata Jogjakarta? Gudeg-kah? Malioboro? Kraton? Candi Prambanan? Kota Pelajar? Kota Pendidikan? atau becak mungkin?

Hmm, memang hal itu semua akan sangat mudah terlintas di kepala. Namun bagaimana jika pertanyaan diubah menjadi:

‘Apa yang kamu rasakan ketika mendengar kata Jogjakarta? ‘

Sejenak, pasti tidak hanya otak yang mulai berpikir, namun hatipun ikut berbicara. Bukan bermaksud untuk membatasi pembaca sebagai –pembaca – yang – pernah – berkunjung ke – Jogja- atau – pembaca – yang – ingin – berkunjung – ke – jogja – tapi – belum – kesampaian, tetapi kami berharap ketika membaca buku ini, pembaca mulai membuka hati dan merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda dari Kota Jogjakarta. Sesuatu yang tidak hanya untuk dilihat, tapi juga untuk dirasakan. Sesuatu yang tidak hanya kasat mata. Sesuatu yang ADA dan ingin tetap ADA.

Senyum warga Jogja yang khas dan tak pernah luntur menjadi salah satu modal utama-nya menjadi kota pariwisata. Tidak hanya menjual tempat, namun Jogja juga menjual keramahannya. Suasana hangat, dekat dan kekeluargaan membuat banyak mahasiswa luar kota betah tinggal di Jogja, sampai–sampai membuat sang orang tua mulai khawatir lalu mengharapkan si anak cepat lulus dan kembali ke kota asal. Padahal, ketika melangkah pergi dari Jogja, pasti ingin segera kembali. Jogjakarta menjadi salah satu kota yang selalu membuat hati rindu akan suasana hangat, nyaman, ramah dan dekat.

Tidak dipungkiri, Jogjakarta merupakan kota kecil yang terdiri atas masyarakat dari berbagai agama dan kepercayaan, budaya, etnis, kebiasaan, adat, dan beraneka ragam perbedaan lainnya. Masyarakat yang datang dari berbagai penjuru daerah tentunya membawa karakter yang berbeda-beda. Namun bagaimana hal itu semua tidak menimbulkan perpecahan tapi justru menjadi ‘modal’ bagi kota kecil ini.

Ada sebuah budaya yang mendukung semua itu, yaitu Budaya Perdamaian. Apa itu budaya perdamaian dan bagaimana budaya perdamaian di Jogja? Melalui buku ini, kami yakin hal itu akan terjawab dan kami berharap hal itu dapat terjaga agar tetap lestari.

Peace Generation sebagai komunitas pemuda yang peduli mengenai perdamaian, tergerak untuk mengamati fenomena ini. Kami ingin memotret Jogjakarta dari ‘sisi lain’, bukan sebagai kota pendidikan, bukan sebagai kota budaya ataupun pariwisata namun sebagai kota yang sarat akan nilai-nilai perdamaian.

Berdasarkan latar belakang tersebut, kemudian dilaksanakanlah sebuah kegiatan oleh Peace Generation yang berlabel ‘JOGJA PEACE AMAZING RACE’ (JPAR). Kegiatan ini terdiri atas 60 peserta mahasiswadengan beraneka ragam latar belakang unversitas, asal daerah, agama maupun etnis. Kami kemudian mengunjungi 9 titik lokasi di Jogja yang telah ditetapkan, yaitu Vihara Budha Prabha, Pura Jagatnata, Fakultas Kedokteran Umum UGM (mengangkat nilai Multikultur), Padepokan Bagong Kussudiardja, Komunitas Gayam 16, Kraton Jogjakarta (mengangkat nilai Active Non Violence), Yakkum, Komunitas Ebenezer, dan LSM Kebaya (mengangkat nilai Solidaritas).

Kami melakukan sebuah perjalanan untuk belajar tentang nilai-nilai perdamaian yang ada, terutama yang mengandung nilai Multikultur, Solidaritas dan Active Non Violence (ANV). Ketiga nilai tersebut yang menjadi tema besar dalam kegiatan JPAR kali ini.

Setelah mengunjungi kesembilan lokasi, peserta kemudian ikut serta dalam kemah perdamaian (peace camp) selama 4 hari yang masih termasuk dalam rangkaian acara JPAR tersebut. Dalam peace camp tersebut digali lagi mengenai ilmu yang mereka dapat selama perjalanan disertai dengan kegiatan-kegiatan lain yang mendukung pemahaman mereka tentang perdamaian.

Buku ini merupakan kumpulan cerita sahabat-sahabat kita mengenai sebuah perjalanan damai yang mereka lakukan. Mengenai apa yang mereka rasakan, apa yang mereka dapat dan apa yang dapat mereka bagi pada semua teman-teman pembaca. Sebagian cerita dirangkum dalam seorang tokoh bernama AKU sebagai simbolisasi peserta JPAR dan cerita lain ditulis dalam Jurnal Sahabat, yang merupakan curahan hati langsung para peserta dari perjalanan dan selama kegiatan pecae camp yang telah mereka lakukan.

Kami berharap, perjalanan kali ini bukanlah sebuah perjalanan yang terhenti hanya di sembilan tempat itu saja. Masih banyak tempat-tempat lain yang memiliki potensi nilai damai yang belum tereksplore. JPAR kali ini hanya ingin mengawali sebuah perjalanan damai, dan berharap akan ada perjalanan-perjalanan damai selanjutnya, tidak hanya di kota Jogja, namun juga di kotamu, kawan.

-Peace Generation-

2 Responses to Sekilas Tentang Buku “Pelangi Damai di Sudut Jogja”

  1. firza says:

    Bukunya bisa didapetin dimana?

  2. peacegeneration says:

    Hi Firza. Kalau kamu sedang berada di Jogja, buku ini bisa didapatkan di Toko Buku “Toga Mas” di Jalan Affandi (Jl. Gejayan) dengan harga yang sangat terjangkau. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: