Merasakan Tri Suci Waisak 2556 BE/2012


Sore itu hujan turun lebat, namun tujuh motor para Pisgeners (panggilan akrab untuk anggota Peace Generation) tetap menerobos halangan. Motor saya, membonceng Ofirisha, tepat berada di belakang motor Ema dan Ana (Nurul, Bje, Denis dan Lius, Eny, Stanley, Joan, Tiko menyusul di belakang). Genap tujuh motor dan selama perjalanan satu jam yang ditempuh menuju Candi Borobudur, kami selalu berhenti sedikit-sedikit untuk menoleh ke belakang. Ketika kami tiba di Borobudur, hujan reda dengan sendirinya.

pisgeners saat mau berangkat ke waisak


Pisgeners memang sudah merencanakan untuk ikut Waisak di Borobudur. Ide ini tercetus ketika kami melakukan acara Pissppt (Peace on The Spot), aksi membagikan stiker dan menyanyi serta menghibur pengunjung Malioboro di Hari Kartini (22/04). Tujuan utamanya untuk berkunjung ke Borobudur jelas: kami ingin merasakan bagaimana damai dan tenangnya perayaan suci Waisak melalui sudut pandang para bikku yang sedang bermeditasi. Bagi sebagian besar dari kami, mungkin kesempatan kali ini adalah yang pertama dan yang paling dinanti-nanti.

Berbeda dengan anggapan awal kami, puncak perayaan Tri Suci Waisak 2556 BE/2012 (06/05) tidak seramai dugaan. Namun begitu, akses melalui pintu utama untuk menuju candi telah ditutup ketika kami tiba. Iringan lagu Buddhis dan tampilan di panggung sebelum menuju candi kami lewati begitu saja karena takut ketinggalan momen menyaksikan meditasi di puncak candi. Karena kabarnya, 2012 lampion akan mengangkasa petang itu.

Di sana kami kebetulan bertemu dengan Saut Situmorang dan kekasihnya, Katrin Bandel—berjalan di medan yang becek, orang-orang di sekeliling kami masih sempat-sempatnya melantunkan lagu Buddhis yang di depan pintu masuk sempat dikumandangkan. Rombongan telah terpisah satu dengan yang lain, Bje sibuk mengobrol dengan Saut, dan rombongan lainnya bercanda-canda di belakang.

sentuhan pertama waisak


Tema perayaan Waisak kali ini: “Meningkatkan Metta dan Karuna (Cinta Kasih dan Welas Asih)” dengan sub tema: “Pencerahan Menuju Manusia Arif dan Bijaksana” dan rencananya akan tepat jatuh pada pukul 10:34:49 WIB. Ketika kami tiba di area upacara, orang-orang sudah menyemut di dekat panggung di mana para bikku yang mengenakan caping telah bermeditasi di sana. Sebuah patung besar Buddha berstana tepat di hadapan kami, dua patung Buddha yang berukuran lebih kecil menjadi pendamping di kiri dan kanan. Saya tidak pasti betul tentang nama-nama Buddha tersebut. Sesajian berupa jeruk, pir, dan hiasan-hiasan bunga memenuhi meja saji di depan patung.

api suci dan patung buddha


Rupanya ketika kami telah beberapa puluh menit berdiri di tengah keramaian yang makin menjadi, acara belum benar dimulai. Satu persatu pisgeners menyebar ke sepenjuru tempat. Saya pun melenggang sendiri mengelilingi wilayah itu dan menuju ke bagian belakang panggung di mana orang-orang banyak berkumpul. Lilin-lilin kecil dijejerkan di bagian muka candi yang dibentuk menjadi tulisan Tri Suci Waisak 2556 BE/2012. Ratusan fotografer mengelilingi area bagian belakang panggung, beberapanya telah menemukan spot yang tepat untuk membingkai panorama Borobudur kala disorot lampu-lampu tinggi.

Orang-orang Buddha Tionghoa banyak yang menuju ke dua-tiga tenda oleh Walubi. Saya sedikit merapat ke sana karena barangkali disediakan press release yang bisa saya baca-baca sembari menunggu para bikku bermeditasi. Ternyata “siaran pers” itu telah dibagikan di Candi Mendut. Jadilah saya melirik ke arah tumpukan buku, botol-botol air minum, dan poster. Kesemuanya ternyata dibagikan secara gratis. Beberapa pisgeners sudah sempat mengambilnya. Tiko membeli lilin (berisi lima lilin) yang dibagikan kepada kami. Saya mengambil yang warna biru.

menyalakan lilin untuk dibawa mengelilingi candi


Karena lelah berdiri, saya memutuskan untuk ikut duduk. Denis dan Lius di sana; saya awalnya menghabiskan waktu dengan membaca, tapi justru mengantuk dan tertidur. Melalui pengeras suara, panitia mengumumkan pembacaan doa dari perwakilan sekte-sekte Buddha; sebagian yang saya ingat berasal dari Theravada, Mahayana, dan Maitreya. Di akhir pembacaan doa, seorang bikku sempat melawak dan pengunjung tertawa terpingkal sembari bertepuk tangan. Diumumkanlah bahwa Pradakshina akan dimulai.

setelah semadi, mengitari candi


Pradakshina adalah prosesi mengitari bangunan Candi Borobudur sebanyak tiga kali sembari membawa lilin. Saya dan Denis memutari candi sebanyak tiga kali. Di putaran pertama, saya sempat tertawa dalam hati karena ratusan (apa ribuan, ya?) fotografer menjepret-jepretkan kameranya ketika kami sudah kembali melewati panggung. Tidak banyak yang ikut melakukan Pradakshina, kebanyakan justru berkumpul di pinggir area. Barangkali mereka hanya menunggu lampion diterbangkan. Tidak seperti rumor yang beredar tentang 2012 lampion, di awal prosesi panitia mengabarkan yang diangkasakan hanya 1200 lampion.

mulai mengitari candi, pisgeners ada bersama lautan keheningan itu


Lampion Perdamaian

Biarpun begitu, keindahan 1200 “bintang-bintang” pun sudah lebih dari cukup. Anggota pisgeners sendiri melayangkan 2 lampion, berkat “pendekatan” Tiko ke petugas acara. Menurut Tiko, kami mendapatkannya gratis; padahal semestinya dikenakan bayaran Rp 100.000 per satu lampion. Beberapa Pisgeners lain yang kebetulan bertemu dengan kami langsung di Borobudur kami ajak bergabung untuk menerbangkan lampion.

lampion pencerahan itu mulai diterbangkan


Lampion kemudian dinyalakan dan bagian ujung-ujungnya dipegangi oleh kami; sembari memejamkan mata dan, apa kata Denis sebagai, make a wish. Maka dini hari itu, bersama dengan lampion kami, doa-doa membumbung ke angkasa, turut membentuk jembatan seperti lampion-lampion lainnya; menuju (katanya) ke arah timur. Menariknya, supermoon sedang cantik-cantiknya di seberang “jembatan lampion” itu. Ketika keramaian sudah semakin menyurut, lewat bagian belakang atas panggung, panitia melemparkan buah-buahan, biskuit, dan susu kemasan. Pisgeners mendapat semuanya, menangkap berebutan dengan yang masih berada di lokasi. Selepas hampir keseluruhan lampion diterbangkan, sekuriti yang menjaga bangunan candi menyuruh kami menuju ke bagian depan panggung.

pisgeners juga mengambil bagian menerbangkan lampion


Di panggung, banyak pengunjung telah mengambil saji-sajian yang diletakkan di meja. Kami berfoto di depan patung Buddha sebelum melangkah pergi. Di jalan pulang, sekitar Jl. Magelang KM 20, kami (yang belum sempat makan siang dan sore) akhirnya makan pecel lele dan ayam di pinggir jalan yang masih buka. Sajian yang mengenyangkan dan nikmat. Sebagian besar dari kami barangkali baru tiba di rumah pukul 03.00 pagi seperti saya (Dewi Kharisma Michellia).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: